Anda pasti kenal dengan Mario Teguh sang Inspirator yang wajahnya sering menghiasi salah satu TV swasta di Jakarta, dan juga seorang bergerak di bidang Bussiness Efectiveness Consultant. Selain wajahnya yang teduh sekaligus pembawaannya dalam menyampaikan yang khas. Tentu yang takkan pernah terlupakan adalah tips dan motivasinya. Berikut ini adalah Tips Motivasi dari Mario Teguh mudah-mudahan menjadi pemompa semangat bagi kita yang ingin maju.
Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil
Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan
Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu
Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru
Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah
Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda
Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat
Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan
Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan
anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang
yang berbakat
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani
daripada orang kaya yang penakut. Karena
sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa
depan yang akan mereka capai
Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin.
Dengan mencoba sesuatu yang tidak
mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik
dari yang mungkin anda capai.
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa
mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang
baik, maka andalah yang akan dicari uang
Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita
mungkin menua dengan berjalanannya waktu,
tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus
mengubah diri kita sendiri
Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk
melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi
orang tua yang masih melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan saat muda.
Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat
berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita
kaya, tetapi menggunakannya dengan baik
adalah sumber dari semua kekayaan
Kamis, 17 September 2009
CHANGE YOUR QUESTION, CHANGE YOUR LIVE
Change Your Question Change Your Life
Salah satu teknik pemecahan masalah (problem solving) yang relatif sederhana tapi ampuh adalah dengan mengajukan pertanyaan memakai 5W+1H, yaitu Why, What, Where, When, Who dan How. Dengan lima kata tanya ini maka kita akan berusaha menyelidiki atau memecahkan suatu masalah secara menyeluruh dari segala aspek. Ada juga cara yang lebih ampuh yaitu dengan teknik 5W (Five Why's) yaitu dengan bertanya lima kali why secara bertingkat mengapa suatu peristiwa terjadi, sehingga akan ditemukan alasan utama atau penyebab dasar (root cause) terjadinya sesuatu (bukan hanya sekedar symptom atau gejala).
Kedua teknik bertanya ini dipakai oleh para manajer, sejarawan, peneliti, ilmuwan atau siapapun untuk memecahkan berbagai persoalan dan terbukti cukup efektif untuk menemukan solusi.
Tapi dalam pengembangan pribadi, agar hidup kita bertumbuh, semakin berkualitas, dan memiliki tanggungjawab, maka kita perlu memilih pertanyaan-pertanyaan yang tepat, khususnya pada diri sendiri (self talk) dan juga pada orang lain.
Marilah kita perhatikan beberapa contoh pertanyaan ini:
"Mengapa anak buahku susah diatur ?"
"Mengapa hal ini terjadi padaku ?"
"Mengapa susah sekali menjual produk ini ?"
Pertanyaan-pertanyaan diatas akan membuat kita merasa tidak baik (feel bad), tak berdaya dan seolah-olah memposisikan diri kita sebagai korban keadaan. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki 'aura' negatif yang pada gilirannya akan menghadirkan sikap negatif pula buat kita.
Berikutnya mari kita ucapkan beberapa pertanyaan yang lain di bawah ini :
"Kapan harga produk kita bisa lebih bersaing ?"
"Kapan saya dapat menemukan orang-orang yang berkualitas ?"
"Kapan ia dapat lebih menghargai posisiku ?"
Pertanyaan-pertanyaan ini juga tak lebih baik karena akan memberikan kesan seolah-olah kita hanya bisa menunggu, menunda atau pasrah pada keadaan. Walaupun saya yakin Anda tidak bermaksud untuk menunggu atau menunda, tapi itulah yang kita tangkap dari pertanyaan-pertanya an ini.
Dan mari kita simak satu jenis pertanyaan lagi berikut ini :
"Siapa yang menyebabkan masalah ini ?"
"Siapa yang bisa lebih baik dari saya ?"
"Siapa yang bisa menjelaskan visi perusahaan ?"
Sekali lagi, mari kita rasakan. Tanpa kita sadari bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya kita telah mencari 'kambing hitam', tidak mau introspeksi dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.
Apa arti ini semua ?" Kita perlu hati-hati dalam membuat pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang salah akan membuat kita merasa tak berdaya, pesimis, pasrah pada keadaan, semakin lari dari tanggungjawab dan menyalahkan orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kita semakin jauh dari kesuksesan.
Kemudian marilah kita berpaling kepada pertanyaan-pertanyaan berikut :
"Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki situasi ?"
"Bagaimanakah caranya agar penjualan saya bulan ini bisa meningkat 10% ?"
"Apa benefit tambahan yang bisa saya tawarkan kepada customer ?"
"Bagaimana caranya agar saya lebih kreatif ?"
"Apa yang bisa saya kerjakan agar team ini menang ?"
"Bagaimana caranya agar prestasi saya bisa lebih baik ?"
Nah, gimana rasanya? Aku yakin dengan kata "Apa" dan "Bagaimana", kita akan merasa lebih enak (feel good), lebih berdaya, dan lebih bertanggungjawab dibanding tiga jenis pertanyaan sebelumnya yang menggunakan kata "Mengapa", "Kapan" dan "Siapa".
John G. Miller dalam bukunya "The Question Behind The Question", memberikan tips agar pertanyaan-pertanyaan kita lebih berbobot sehingga bisa membuat kita bertumbuh, lebih bertanggungjawab dan mampu mengubah hidup kita ke arah lebih baik. Inilah tipsnya:
a.. Mulai pertanyaan dengan "Apa" atau "Bagaimana", bukan "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa".
b.. Pertanyaan diusahakan mengandung kata "Saya", bukan "Mereka", "Kamu" atau "Kami"
c.. Berfokus kepada tindakan, misalnya mengandung kata-kata "melakukan", "mencapai", "membuat" atau yang sejenisnya.
Tips diatas bukan berarti kita tidak boleh membuat pertanyaan dengan memakai kata-kata "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa". Tentu saja boleh-boleh saja menggunakan ketiga kata itu untuk menggali gagasan, melakukan analisis, memecahkan masalah atau melakukan tindak lanjut. Tapi untuk melakukan perubahan dan tindakan yang positif, maka yang terbaik adalah memulai dengan "Apa" atau "Bagaimana", memakai kata ganti orang pertama ("Saya") dan action oriented.
Nah, mulai saat ini kita perlu mengubah pertanyaan-pertanyaan kita dengan memakai formula diatas. Dengan mengubah pertanyaan, maka hidup kita akan berubah. Wish You Luck.
Salah satu teknik pemecahan masalah (problem solving) yang relatif sederhana tapi ampuh adalah dengan mengajukan pertanyaan memakai 5W+1H, yaitu Why, What, Where, When, Who dan How. Dengan lima kata tanya ini maka kita akan berusaha menyelidiki atau memecahkan suatu masalah secara menyeluruh dari segala aspek. Ada juga cara yang lebih ampuh yaitu dengan teknik 5W (Five Why's) yaitu dengan bertanya lima kali why secara bertingkat mengapa suatu peristiwa terjadi, sehingga akan ditemukan alasan utama atau penyebab dasar (root cause) terjadinya sesuatu (bukan hanya sekedar symptom atau gejala).
Kedua teknik bertanya ini dipakai oleh para manajer, sejarawan, peneliti, ilmuwan atau siapapun untuk memecahkan berbagai persoalan dan terbukti cukup efektif untuk menemukan solusi.
Tapi dalam pengembangan pribadi, agar hidup kita bertumbuh, semakin berkualitas, dan memiliki tanggungjawab, maka kita perlu memilih pertanyaan-pertanyaan yang tepat, khususnya pada diri sendiri (self talk) dan juga pada orang lain.
Marilah kita perhatikan beberapa contoh pertanyaan ini:
"Mengapa anak buahku susah diatur ?"
"Mengapa hal ini terjadi padaku ?"
"Mengapa susah sekali menjual produk ini ?"
Pertanyaan-pertanyaan diatas akan membuat kita merasa tidak baik (feel bad), tak berdaya dan seolah-olah memposisikan diri kita sebagai korban keadaan. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki 'aura' negatif yang pada gilirannya akan menghadirkan sikap negatif pula buat kita.
Berikutnya mari kita ucapkan beberapa pertanyaan yang lain di bawah ini :
"Kapan harga produk kita bisa lebih bersaing ?"
"Kapan saya dapat menemukan orang-orang yang berkualitas ?"
"Kapan ia dapat lebih menghargai posisiku ?"
Pertanyaan-pertanyaan ini juga tak lebih baik karena akan memberikan kesan seolah-olah kita hanya bisa menunggu, menunda atau pasrah pada keadaan. Walaupun saya yakin Anda tidak bermaksud untuk menunggu atau menunda, tapi itulah yang kita tangkap dari pertanyaan-pertanya an ini.
Dan mari kita simak satu jenis pertanyaan lagi berikut ini :
"Siapa yang menyebabkan masalah ini ?"
"Siapa yang bisa lebih baik dari saya ?"
"Siapa yang bisa menjelaskan visi perusahaan ?"
Sekali lagi, mari kita rasakan. Tanpa kita sadari bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya kita telah mencari 'kambing hitam', tidak mau introspeksi dan melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.
Apa arti ini semua ?" Kita perlu hati-hati dalam membuat pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang salah akan membuat kita merasa tak berdaya, pesimis, pasrah pada keadaan, semakin lari dari tanggungjawab dan menyalahkan orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kita semakin jauh dari kesuksesan.
Kemudian marilah kita berpaling kepada pertanyaan-pertanyaan berikut :
"Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki situasi ?"
"Bagaimanakah caranya agar penjualan saya bulan ini bisa meningkat 10% ?"
"Apa benefit tambahan yang bisa saya tawarkan kepada customer ?"
"Bagaimana caranya agar saya lebih kreatif ?"
"Apa yang bisa saya kerjakan agar team ini menang ?"
"Bagaimana caranya agar prestasi saya bisa lebih baik ?"
Nah, gimana rasanya? Aku yakin dengan kata "Apa" dan "Bagaimana", kita akan merasa lebih enak (feel good), lebih berdaya, dan lebih bertanggungjawab dibanding tiga jenis pertanyaan sebelumnya yang menggunakan kata "Mengapa", "Kapan" dan "Siapa".
John G. Miller dalam bukunya "The Question Behind The Question", memberikan tips agar pertanyaan-pertanyaan kita lebih berbobot sehingga bisa membuat kita bertumbuh, lebih bertanggungjawab dan mampu mengubah hidup kita ke arah lebih baik. Inilah tipsnya:
a.. Mulai pertanyaan dengan "Apa" atau "Bagaimana", bukan "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa".
b.. Pertanyaan diusahakan mengandung kata "Saya", bukan "Mereka", "Kamu" atau "Kami"
c.. Berfokus kepada tindakan, misalnya mengandung kata-kata "melakukan", "mencapai", "membuat" atau yang sejenisnya.
Tips diatas bukan berarti kita tidak boleh membuat pertanyaan dengan memakai kata-kata "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa". Tentu saja boleh-boleh saja menggunakan ketiga kata itu untuk menggali gagasan, melakukan analisis, memecahkan masalah atau melakukan tindak lanjut. Tapi untuk melakukan perubahan dan tindakan yang positif, maka yang terbaik adalah memulai dengan "Apa" atau "Bagaimana", memakai kata ganti orang pertama ("Saya") dan action oriented.
Nah, mulai saat ini kita perlu mengubah pertanyaan-pertanyaan kita dengan memakai formula diatas. Dengan mengubah pertanyaan, maka hidup kita akan berubah. Wish You Luck.
Sabtu, 11 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
